Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memulai Kolaborasi Perusahaan dengan Komunitas

- Kolaborasi yang efektif dimulai dengan riset sosial atau social mapping agar program sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.
- Keterlibatan akademisi dan lembaga independen penting untuk memastikan program CSR memiliki dampak terukur dan kredibel.
- Keberhasilan kolaborasi ditentukan oleh komunikasi terbuka, transparansi, dan integrasi program ke dalam strategi bisnis perusahaan.
Kolaborasi yang Tidak Sekadar Formalitas
Kolaborasi antara perusahaan dan komunitas lokal kini
menjadi strategi penting dalam memperkuat tanggung jawab sosial dan menciptakan
dampak nyata bagi masyarakat. Namun, tidak semua kerja sama berjalan mulus.
Banyak program yang gagal karena kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan
komunitas dan tujuan bisnis yang tidak sejalan.
Menurut Dr. Ratri Ayuningtyas, M.Si, dosen komunikasi
korporasi dari Universitas Indonesia, “Kesalahan terbesar perusahaan adalah
memulai program CSR tanpa riset sosial yang memadai. Tanpa memahami konteks
lokal, niat baik justru bisa menghasilkan resistensi.”
Agar kolaborasi dapat memberikan hasil optimal, ada sejumlah
hal yang perlu diperhatikan sebelum memulainya.
Lakukan Pemetaan Kebutuhan Masyarakat
Langkah pertama sebelum memulai kolaborasi adalah memahami
karakter dan kebutuhan komunitas yang akan diajak bekerja sama.
Proses ini dikenal sebagai social mapping, yang mencakup identifikasi potensi,
masalah utama, serta peluang kolaborasi.
Contohnya, saat PT PLN (Persero) mengembangkan program
listrik desa di Nusa Tenggara Timur, perusahaan melakukan survei sosial selama
tiga bulan untuk memastikan program yang dibangun sesuai kebutuhan masyarakat,
bukan sekadar proyek simbolis.
“Kami belajar bahwa setiap komunitas punya dinamika berbeda.
Tanpa mendengarkan warga secara langsung, hasilnya bisa melenceng jauh dari
tujuan awal,” ujar salah satu perwakilan CSR PLN Wilayah Timur.
Social mapping juga membantu perusahaan menghindari tumpang
tindih program dengan pihak lain dan menciptakan intervensi yang lebih terarah.
Tentukan Tujuan Bersama yang Jelas
Kesalahan umum lainnya adalah tidak adanya kesepakatan
tujuan yang konkret antara perusahaan dan komunitas.
Perusahaan biasanya ingin menonjolkan citra positif, sedangkan komunitas
berharap adanya manfaat ekonomi langsung.
Untuk menghindari konflik kepentingan, kedua pihak perlu menyusun dokumen
komitmen bersama (MoU) yang memuat tanggung jawab dan target terukur.
Misalnya, dalam kerja sama PT Unilever Indonesia dengan
Komunitas Bank Sampah Malang, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman yang
menegaskan pembagian peran perusahaan menyediakan fasilitas dan pelatihan,
sementara komunitas mengelola operasional harian.
Hasilnya, jumlah sampah plastik yang berhasil didaur ulang meningkat hingga 35%
dalam setahun (data: DLH Kota Malang, 2024).
.webp)
Libatkan Akademisi dan Lembaga Independen
Kolaborasi yang baik memerlukan pendampingan dari pihak
netral agar hasilnya bisa dievaluasi secara objektif.
Keterlibatan akademisi, lembaga penelitian, atau konsultan sosial dapat
membantu memastikan bahwa program tidak hanya “baik di atas kertas”, tetapi
benar-benar berdampak nyata.
Menurut Prof. Tri Edhi Budhi Soesilo dari Universitas
Indonesia, “Pendampingan akademis penting untuk menjaga integritas data dan
memastikan setiap program memiliki indikator keberlanjutan yang terukur.”
Lembaga seperti LIPI (BRIN) atau universitas negeri setempat
kerap menjadi mitra strategis dalam pengukuran dampak sosial dan penyusunan
laporan CSR yang kredibel.
Siapkan Mekanisme Evaluasi Sejak Awal
Salah satu kesalahan fatal dalam kolaborasi perusahaan dan
komunitas adalah tidak adanya sistem evaluasi yang konsisten. Padahal, evaluasi
berkala memungkinkan kedua pihak untuk menilai efektivitas program dan
melakukan perbaikan cepat bila ada kendala.
Evaluasi bisa mencakup:
- Dampak
ekonomi: peningkatan pendapatan atau jumlah usaha baru.
- Dampak
sosial: peningkatan partisipasi warga dalam kegiatan bersama.
- Dampak
lingkungan: pengurangan sampah, penghijauan, atau efisiensi energi.
Sebagai contoh, Program Desa Energi Mandiri di Kulon Progo,
yang dijalankan oleh Pertamina Foundation, menggunakan sistem audit sosial
setiap enam bulan.
Hasil evaluasi 2024 menunjukkan efisiensi penggunaan energi meningkat 23%,
sementara pendapatan warga naik 18%.
Bangun Komunikasi yang Terbuka dan Setara
Tidak kalah penting, kolaborasi yang sehat harus dibangun di
atas komunikasi terbuka dan saling percaya. Perusahaan perlu menempatkan
komunitas sebagai mitra sejajar, bukan penerima bantuan semata.
Kegiatan seperti forum diskusi rutin, lokakarya terbuka, dan pelatihan bersama
terbukti efektif menjaga transparansi.
“Keberlanjutan hanya bisa tercapai jika komunikasi dua arah
terbangun dengan baik,” kata Dr. Ratri Ayuningtyas dari UI.
Integrasikan Kolaborasi ke Strategi Bisnis
Program CSR yang berdampak besar biasanya merupakan bagian
dari strategi bisnis utama perusahaan, bukan proyek tambahan. Integrasi ini
penting agar kolaborasi memiliki dukungan jangka panjang, baik dari sisi
anggaran maupun kebijakan.
Sebagai contoh, Astra International mengembangkan Kampung
Berseri Astra, di mana pemberdayaan masyarakat diintegrasikan dengan rantai
pasok dan program lingkungan perusahaan.
Hingga kini, program ini sudah menjangkau lebih dari 100 kampung binaan di
Indonesia, dengan peningkatan indeks kebahagiaan masyarakat hingga 21% (data: Laporan
Astra Sustainability 2024).
FAQ
1. Apa langkah pertama dalam memulai kolaborasi
perusahaan dengan komunitas?
Lakukan social mapping untuk memahami kebutuhan dan potensi masyarakat secara
menyeluruh.
2. Bagaimana cara menjaga agar kerja sama berjalan
berkelanjutan?
Pastikan tujuan dan indikator keberhasilan disepakati sejak awal, serta lakukan
evaluasi rutin bersama.
3. Mengapa penting melibatkan akademisi dalam program
CSR?
Agar hasil program dapat diukur secara ilmiah dan memiliki legitimasi akademik.
4. Apa faktor utama yang menentukan keberhasilan
kolaborasi?
Transparansi, komunikasi setara, dan partisipasi aktif dari kedua belah pihak.
5. Bagaimana cara menghindari kegagalan dalam kolaborasi
sosial?
Hindari pendekatan top-down, dan selalu libatkan komunitas sejak tahap
perencanaan hingga evaluasi.
Published by Sefanya Pratiwi (sea)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar